Menikmati Wisata Sejarah di Museum Pusaka Keraton Kesepuhan Cirebon

MUSEUM Pusaka Keraton Kasepuhan Cirebon yang terletak di Keraton Kesepuhan Cirebon menyimpan benda-benda bersejarah. Dalam ruang museum seluas 1.000 meter persegi, terdapat lemari-lemari yang tertanam di dinding dengan kaca-kaca besar. Senjata-senjata pusaka Keraton Kasepuhan ditata sedemikian rupa untuk menarik mata pengunjung.

Di museum ini terdapat sekitar 2000 koleksi benda-benda pusaka, yang ditempatkan berdasarkan periode waktu, dimulai dari koleksi terlama hingga koleksi terbaru. Dengan cara tersebut, pengunjung seakan memasuki sejarah Keraton Cirebon mulai dari Pangeran Cakrabuana pada masa Galuh Pajajaran, masa Sunan Gunung Jati, hingga Sultan Cirebon setelahnya.

Peninggalan-peninggalan Pangeran Cakrabuana di abad XIII-XIV bisa dikenali seperti Keris Sempana, Keris Brojol, Keris Sempaner, Keris Pandita Tapa, Keris Santan, dan Keris Bima Kurda.

Kemudian ada Badik, senjata yang selama ini identik dengan Sulawesi juga sudah ada sejak masa Prabu Siliwangi. Tak ketinggalan senjata khas Sunda yaitu Kujang Wayang. Kujang tersebut berasal dari masa Galuh Pajajaran dengan bentuk yang begitu artistik.

Barang koleksi museum (Foto: MP/Mauritz)
Barang koleksi museum (Foto: MP/Mauritz)

Di museum ini, masyarakat juga bisa menyaksikan senjata pusaka dari tokoh paling terkenal Kesultanan Cirebon, yakni Sunan Gunung Jati atau Syekh Syarif Hidayatullah. Tokoh utama penyebar agama Islam di Jawa ini meninggalkan sejumlah pusaka yang dibuat pada masa 1479-1597 M, yaitu Keris Dholog dan Keris Tilam Upih.

Ada pula Peti Mesir yang dibawa oleh Sunan Gunung Jati dan ibundanya dari Mesir ke Cirebon. Sunan Gunung Jati adalah putra pasangan Raja Champa, Sultan Syarif Abdullah dan Nyai Rara Santang, putri Raja Siliwangi.

Museum ini adalah salah satu museum dengan konsep yang modern, sangat kontras dengan lingkungan keraton yang masih mempertahankan nilai tradisional. Suasana yang lebih modern ini bertujuan untuk menarik minat wisatawan, terutama kalangan muda.

“Sehingga suasananya seperti tempat-tempat modern, yakni terang, segar, sejuk, bersih, dan tertata apik,” jelas Sultan Sepuh XIV PRA Arief Natadiningrat, Senin (16/12).

Menurut Sultan, anak muda zaman sekarang senangnya ke pusat perbelanjaan. Karena itulah pihaknya membuat suasana Museum Pusaka yang mirip dengan pusat perbelanjaan yang rapi, bersih, dan sejuk. Sehingga, tidak ada lagi kesan gelap, pengap, dan menyeramkan saat memasuki tempat penyimpanan benda-benda keramat milik keraton.

Museum ini memiliki desain modern (Foto: MP/Mauritz)
Museum ini memiliki desain modern (Foto: MP/Mauritz)

Tidak hanya itu, tambah Sultan, saat memasuki gedung museum yang baru diresmikan Juni 2017 lalu ini, pengunjung akan mendapatkan sambutan khas hotel. Lima orang wanita layaknya resepsionis hotel, berdiri berjajar di belakang meja front office bercorak ukiran Mega Mendung.

“Museum Pusaka ini memang ditujukan kepada generasi muda untuk meneladani masa lalu. Sehingga, anak-anak muda tertarik untuk mempelajari masa lalu sebagai inspirasi ke depan,” tuturnya.

Tidak hanya itu, lanjut Sultan, Museum Pusaka Keraton Kesepuhan Cirebon juga ditujukan untuk menarik minat wisatawan asing. Karena, cukup banyak juga wisatawan asing dari berbagai negara yang datang dan berkunjung ke Keraton Kesepuhan, termasuk ke Museum Pusaka Keraton Kesepuhan.

“Dengan begitu, selain untuk belajar bagi para generasi muda mengenal budaya leluhur, juga untuk memicu devisa di sektor pariwisata budaya,” pungkasnya.

Main Menu